Hardiknas 2022: Pimpin Pemulihan, Bergerak Untuk Merdeka Belajar

34

Jakarta – Dengan mengusung tema, “Pimpin Pemulihan, Bergerak untuk Merdeka Belajar” pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2022 kali ini. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyelenggarakan upacara bendera  di halaman Kantor Kemendikbudristek di Jakarta, jumat (13/5).

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim selaku pembina upacara mengatakan.  Kita tidak hanya mampu melewati, tetapi berdiri di garis depan untuk memimpin pemulihan dan kebangkitan.

“Hari ini adalah bukti, kita jauh lebih tangguh dari semua tantangan. Kita tidak hanya mampu melewati, tetapi berdiri di garis depan untuk memimpin pemulihan dan kebangkitan. Di tengah hantaman ombak yang sangat besar, kita terus melautkan kapal besar bernama Merdeka Belajar, yang di tahun ketiga ini telah mengarungi pulau-pulau di seluruh Indonesia,” ujar Nadiem Anwar Makarim dalam pidatonya dengan mengenakan pakaian adat dari Flores, Nusa Tenggara Timur.

Lebih lanjut Nadiem menuturkan, hingga tahun ketiga pandemi, Kemendikbudristek terus melakukan berbagai terobosan dalam Merdeka Belajar yang menghasilkan perubahan positif. Diantaranya tidak hanya
tidak hanya dirasakan oleh para orang tua, guru, dan murid di Indonesia, akan tetapi sudah digaungkan hingga ke negara-negara lain melalui Presidensi Indonesia di Konferensi Tingkat Tinggi G20.

“Tahun ini kita membuktikan bahwa kita tidak lagi hanya menjadi pengikut, tetapi pemimpin dari gerakan pemulihan dunia,” ujarnya.

Pada masa pandemi COVID-19, Kemendikbudristek menghadirkan Kurikulum Merdeka untuk membantu guru dan murid dalam proses belajar mengajar.

Sebagai upaya Pemerintah untuk mengurangi dampak hilangnya pembelajaran. Adapun Kurikulum Merdeka akan diterapkan di lebih dari 140.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

“ltu berarti bahwa ratusan ribu anak Indonesia akan belajar dengan cara yang jauh lebih menyenangkan dan memerdekakan,” tuturnya.

Bukan hanya itu kata Nadiem, peserta didik juga tidak perlu lagi khawatir dengan tes kelulusan karena asesmen nasional yang sekarang digunakan tidak untuk “menghukum” guru atau murid, melainkan sebagai bahan refleksi agar guru terus terdorong untuk belajar, agar kepala sekolah termotivasi untuk meningkatkan kualitas sekolahnya menjadi lebih inklusif dan bebas dari ancaman tiga dosa besar pendidikan.

Begitupun semangat yang sama lanjut dia, keberadaan para seniman dan pelaku budaya, yang mulai bangkit lagi, mulai berkarya lagi dengan lebih merdeka.

“Itu semua berkat kegigihan kita untuk melahirkan terobosan dana abadi kebudayaan dan kanal budaya pertama di Indonesia. Dampaknya, sekarang tidak ada lagi batasan ruang dan dukungan untuk berekspresi, untuk terus menggerakkan pemajuan kebudayaan,” paparnya.

Oleh karena itu, Nadiem melalui Mendikbudristek mengajak para penggerak Merdeka Belajar di seluruh Indonesia agar tidak berhenti bergerak meski sejenak.

“Kita akan terus memegang komando, memimpin pemulihan bersama, bergerak untuk Merdeka Belajar,” imbuhnya.

Peringatan Hardiknas 2022, Kemendikbudristek menggunakan logo yang sama seperti tahun lalu. Peringatan tersebut diikuti 252 peserta secara luring dengan mengenakan pakaian adat yang juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Upacara diselenggarakan secara terbatas mengingat wilayah Jakarta masih berada pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2.

Sementara sebanyak 2.700 orang yang terdiri atas peserta didik berprestasi, duta rumah belajar, Guru Penggerak angkatan satu dan dua, mahasiswa Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, alumnus Kemah Budaya Kaum Muda dan para pegiat budaya, serta Duta Bahasa tahun 2020-2021 turut mengikuti upacara secara daring.

Pada kesempatan tersebut, Nadiem  memberikan secara simbolis Satya Lencana Karya Satya kepada enam orang yang mewakili 2.740 Pegawai Negeri Sipil Kemendikbudristek.

Selain itu peringatan Hardiknas 2022  menghadirkan beberapa kekayaan Indonesia seperti budaya tenun, minuman dari rempah yang biasa dikenal dengan nama jamu, serta tempe yaitu makanan yang telah dibudayakan masyarakat Jawa sejak abad ke-16 Masehi dengan ditutup oleh pertunjukan seni Reog Ponorogo dari Paguyuban Reog Ponorogo Jabodetabek.