Puan Maharani: Cegah Penyebaran Hepatitis Akut di Sekolah, Pemerintah Perlu Pantau PTM.

31

Jakarta – Upaya mencegah penyebaran Hepatitis Akut di sekolah, Ketua DPR RI Puan Maharani mengimbau pemerintah agar memantau pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

“Pemerintah perlu terus memantau pelaksanaan PTM untuk menjaga peserta didik dari penyebaran hepatitis akut,” kata Puan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Puan Maharani juga mengingatkan agar masyarakat, khususnya orang tua untuk mengantisipasi penyebaran hepatitis akut. begitu juga pemerintah perlu bekerja cepat dalam memantau dan mengatasi penyakit itu.

“Peran orang tua sangat penting dalam menghadapi hepatitis akut yang masih belum diketahui penyebabnya ini. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah dengan menjaga pola keseharian anak,” imbuhnya.

Sementara menurut Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Suprapto mengatakan, penyebaran hepatitis akut memang perlu diwaspadai di lingkungan sekolah selama pelaksanaan PTM.

“Ada dua kekhawatiran dalam pelaksanaan PTM, yaitu berkenaan dengan COVID-19 yang masih berada dalam pantauan usai mudik Lebaran 2022 dan kecemasan mengenai kasus suspek hepatitis akut di masyarakat,” katanya.

Oleh karena itu, Agus juga menghimbau seluruh pihak agar senantiasa menerapkan protokol kesehatan, guna mencegah terjadinya penyebaran hepatitis akut selama pelaksanaan PTM.

Secara terpisah, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Pimprim Basarah Yanuarso mengharapkan orang tua terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari keluarganya guna mencegah penyebaran hepatitis akut.

“Selama pandemi COVID-19 ini, kita sudah belajar mengatasi penularan virus tersebut melalui saluran pernapasan lewat mengenakan masker, jaga jarak, dan cuci tangan. Untuk mengatasi penyebaran hepatitis akut pada anak, dilanjutkan dengan mencegah penularan dari saluran cerna melalui konsumsi makanan yang matang dan menghindari dari pencemaran,” kata Pimprim.

Dalam hal ini Pimprim meminta Dokter anak yang bernaung dalam IDAI di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan dini jika muncul kasus dengan pasien-pasien yang memenuhi kriteria hepatitis akut.

“Misalnya, gejala pencernaan disertai dengan kuning, buang air besar (BAB) pucat, dan lainnya. Kemudian kalau perlu dilakukan uji fungsi hati SGPT dan SGOT,” ujarnya.

Dokter anak di Rumah Sakit Pondok Indah Muzal Kadim menjelaskan tentang gejala sakit hepatitis A yang umumnya terjadi pada anak.

“Hepatitis A yang banyak terjadi pada anak penularannya lewat saluran cerna. Untuk gejalanya, ada mual. Kalau diare jarang. Mualnya lebih hebat dan lemas, terutama nyeri perut karena pembesaran hati di kanan atas,” ujar Muzal.

Oleh karena itu, lanjut dia, apabila orang tua menemukan gejala tersebut pada anak, sebaiknya mereka segera diperiksakan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Perlu segera diperiksakan ke dokter karena bukan cuma hepatitis melainkan ada beberapa penyakit yang sering menyerang anak, terlebih pada musim panas seperti ini, misalnya demam berdarah dengue (DBD) dan tipus,” pungkas Muzal.