Erik Prince Bikin Perusahaan Pertahanan Drone, Bidik Timur Tengah hingga Ukraina

Nasional3 Dilihat

LAWOROKU.COM – Erik Prince, pendiri perusahaan keamanan swasta Blackwater, kembali terjun ke bisnis pertahanan dengan meluncurkan perusahaan baru yang fokus menangkal serangan drone.

Perusahaan tersebut bernama Vectus Air Defense Systems.

Vectus dibentuk bersama Swarmer, perusahaan teknologi drone asal Ukraina yang mengembangkan perangkat lunak untuk mengoordinasikan operasi sejumlah drone.

Swarmer menjadi salah satu pendiri sekaligus pemegang 20 persen saham Vectus. Sementara Erik Prince menjadi sosok yang memimpin perusahaan tersebut.

Yang menarik, Vectus tidak sekadar menjual perangkat pertahanan udara.

Perusahaan ini menawarkan konsep “air defense as a service”, yakni layanan pertahanan udara yang dirancang, dipasang, dioperasikan, dikelola hingga dipelihara oleh perusahaan berdasarkan kebutuhan pelanggan.

Sistem tersebut menyasar pemerintah maupun pengelola infrastruktur penting yang membutuhkan perlindungan dari serangan udara, khususnya drone.

Gabungkan Berbagai Teknologi

Vectus berencana menggabungkan berbagai teknologi pertahanan dalam satu sistem berlapis.

Teknologi tersebut mencakup sensor dan sistem deteksi, perangkat perang elektronik atau electronic warfare, drone pencegat hingga persenjataan dengan kemampuan tembakan cepat.

Sistem itu nantinya dirancang menyesuaikan jenis ancaman dan kondisi lokasi yang dilindungi.

Menurut Prince, perkembangan ancaman drone berlangsung sangat cepat. Karena itu, sistem pertahanan juga harus mampu mengikuti perubahan teknologi dan pola serangan.

Konsep layanan tersebut memungkinkan sistem pertahanan terus diperbarui tanpa pelanggan harus membeli seluruh perangkat baru setiap kali ancaman berubah.

Baca Juga Kune:  NU Minta Pesantren Tak Terprovokasi Teror Orang Gila

Swarmer akan berperan dalam pengembangan teknologi penangkal drone, termasuk kemampuan mengoordinasikan drone pencegat secara berkelompok.

Perusahaan asal Ukraina itu sebelumnya mengembangkan teknologi otonomi drone yang digunakan dalam operasi di medan perang Ukraina. Swarmer menyebut teknologinya telah mendukung lebih dari 100.000 misi tempur sejak April 2024.

Timur Tengah Jadi Pasar Utama

Vectus melihat Timur Tengah sebagai salah satu pasar potensial.

Kawasan tersebut menghadapi meningkatnya ancaman serangan drone terhadap sejumlah fasilitas strategis, termasuk instalasi energi, pangkalan militer, kilang dan infrastruktur penting lainnya.

Selain Timur Tengah, Vectus juga membidik Ukraina serta sejumlah wilayah lain yang menghadapi peningkatan ancaman serangan drone.

Model bisnis yang ditawarkan menjadi salah satu pembeda Vectus.

Alih-alih hanya menjual perangkat, perusahaan menawarkan sistem pertahanan lengkap yang mencakup desain, integrasi teknologi, personel, pengoperasian, manajemen dan pemeliharaan dalam kontrak jangka panjang.

Bisnis Penangkal Drone Makin Menjanjikan

Kemunculan Vectus terjadi ketika penggunaan drone murah dalam konflik bersenjata semakin meningkat.

Masalahnya, biaya untuk menghancurkan sebuah drone sering kali jauh lebih mahal dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk meluncurkannya.

Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan biaya dalam sistem pertahanan udara.

Vectus mencoba masuk ke celah tersebut dengan menawarkan sistem pertahanan berlapis yang menggabungkan berbagai teknologi dengan biaya yang diklaim lebih efisien.

Baca Juga Kune:  Hari Listrik Nasional, Pertamina Tambah 80 Desa Energi Berdikari (DEB)

Nama keluarga Trump juga muncul dalam perkembangan bisnis teknologi penangkal drone.

Powerus, perusahaan teknologi drone yang mendapat dukungan Donald Trump Jr. dan Eric Trump, sebelumnya mengumumkan kontrak senilai 22 juta dolar AS untuk teknologi penangkal drone bagi perusahaan minyak dan gas di Timur Tengah.

Erik Prince Kembali ke Bisnis Pertahanan

Bagi Erik Prince, Vectus menjadi langkah terbaru dalam bisnis keamanan dan pertahanan swasta.

Prince dikenal sebagai pendiri Blackwater, perusahaan keamanan swasta yang menjadi sorotan dunia selama perang Irak.

Blackwater kemudian dijual Prince pada 2010.

Meski telah meninggalkan perusahaan tersebut, Prince tetap aktif dalam berbagai bisnis yang berkaitan dengan keamanan dan pertahanan.

Kini, melalui Vectus, Prince mencoba memanfaatkan perubahan medan perang modern yang semakin banyak menggunakan drone.

Jika berhasil, model “pertahanan udara sebagai layanan” yang ditawarkan Vectus dapat menjadi alternatif bagi pemerintah maupun perusahaan pemilik infrastruktur strategis yang membutuhkan perlindungan tanpa harus membangun dan mengelola seluruh sistem pertahanan udara sendiri.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perang drone tidak hanya mengubah strategi militer, tetapi juga menciptakan pasar baru bagi perusahaan teknologi pertahanan swasta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *