Rp9,8 Triliun Digelontorkan! Bendungan Pelosika di Konawe Bakal Jadi Terbesar Ketiga di Indonesia

Daerah7 Dilihat

LAWOROKU.COM, KONAWE — Sulawesi Tenggara bersiap memiliki proyek infrastruktur raksasa. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe dengan nilai investasi sekitar Rp9,8 triliun.

Bukan proyek bendungan biasa. Pelosika diproyeksikan menjadi bendungan terbesar ketiga di Indonesia, setelah Bendungan Jatiluhur dan Jatigede, sekaligus menjadi bendungan terbesar di Sulawesi Tenggara.

Proyek strategis ini bahkan dirancang bukan sekadar untuk menampung air. Bendungan Pelosika akan menopang irigasi puluhan ribu hektare lahan pertanian, menyediakan air baku untuk ratusan ribu warga, mengurangi risiko banjir hingga mendukung pembangkitan energi.

Kementerian PU menyebut pembangunan Bendungan Pelosika masuk dalam target pembangunan infrastruktur baru bidang Sumber Daya Air periode 2025–2029.

Saat ini proyek tersebut berada pada tahap proses pemrograman dan siap memasuki proses lelang. Masa pelaksanaan pembangunan direncanakan berlangsung pada 2026–2030.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan bendungan harus berjalan beriringan dengan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi. Hal itu agar air yang ditampung dapat dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

“Suplai air yang berkelanjutan menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani,” kata Dody dalam keterangan resmi Kementerian PU, Rabu (16/9/2026).

Baca Juga Kune:  Pemda Muna Barat Usulkan Gaji PPPK Ditanggung APBN Mulai 2027, Bupati: Beban APBD Bisa Berkurang

Bendungan Pelosika akan memiliki kapasitas tampung total mencapai 1,117 miliar meter kubik, dengan tampungan efektif sebesar 808 juta meter kubik.

Luas genangannya mencapai 5.451,56 hektare, sementara daerah tangkapan airnya mencapai 2.780,93 kilometer persegi.

Dampak terbesar proyek ini salah satunya berada di sektor pertanian.

Bendungan Pelosika akan mendukung layanan irigasi seluas 20.458 hektare, terdiri dari 12.678 hektare daerah irigasi fungsional dan 7.780 hektare daerah irigasi potensial.

Dengan dukungan pasokan air tersebut, indeks pertanaman ditargetkan meningkat dari 220 persen menjadi 300 persen.

Dengan kata lain, lahan yang sebelumnya dapat ditanami dua kali dalam setahun berpotensi ditingkatkan menjadi tiga kali tanam.

Manfaat Pelosika tak berhenti di sawah.

Kementerian PU juga menyiapkan bendungan ini sebagai sumber air baku sebesar 750 liter per detik bagi masyarakat Kabupaten Konawe.

Jika diolah melalui instalasi pengolahan air dan disalurkan melalui jaringan perpipaan, pasokan tersebut diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan air bersih hingga sekitar 540.000 jiwa.

Banjir juga menjadi persoalan yang hendak ditekan melalui proyek ini.

Baca Juga Kune:  Mubar jadi Prioritas Penambahan Kuota BBM, Berikut Kata Pihak Kementrian ESDM

Bendungan Pelosika dirancang untuk mengurangi wilayah berisiko banjir dari sekitar 19.330 hektare menjadi 6.301 hektare di Kabupaten Konawe.

Sebanyak 10 kecamatan masuk dalam cakupan pengendalian banjir, yakni Asinua, Abuki, Lambuya, Uepai, Unaaha, Konawe, Anggaberi, Wawotobi, Wonggeduku dan Pondidaha.

Di sektor energi, Pelosika juga membawa potensi besar.

Bendungan ini dirancang mendukung PLTA berkapasitas 40 MW serta PLTS sebesar 261,12 MW.

Secara teknis, Bendungan Pelosika menggunakan tipe urugan inti clay dengan tinggi 63 meter. Panjang puncak total mencapai 404,26 meter dengan lebar puncak 15 meter dan elevasi puncak bendungan 121 meter.

Untuk menjaga keamanan konstruksi, desain bendungan dilengkapi pelimpah utama tipe ogee serta pelimpah darurat tipe broad-crest.

Dengan nilai pembangunan sekitar Rp9,8 triliun dan kapasitas tampungan lebih dari satu miliar meter kubik, Bendungan Pelosika diproyeksikan menjadi salah satu proyek infrastruktur terbesar di Sulawesi Tenggara.

Jika terealisasi sesuai rencana, Pelosika tidak hanya menjadi bendungan terbesar di Sultra, tetapi juga menjadi bagian penting dalam penguatan ketahanan pangan, ketahanan air, pengendalian banjir dan pengembangan energi di wilayah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *